jump to navigation

Why do we live? June 22, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life.
add a comment

Banyak orang berkata ketika kita berumur sekitar 15-17 tahun, itu adalah saat – saat dimana kita sedang dalam pencarian jati diri. Yang berarti tentang hal – hal apa sih yang ingin kita lakukan dalam hidup kita, kita mau jadi apa, dan apa yang ingin kita lakukan dengan hidup kita. Stuffs like that. Pada waktu itu, aku sama sekali tidak mengerti tentang apa itu pencarian jati diri, aku hanya berpikir untuk menjalani hidup seperti biasa hari demi hari.

Sampai pada suatu saat aku menemukan sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari salah satu tokoh game dalam Final Fantasy yang bertanya : “Mengapa manusia begitu ingin hidup padahal tahu semua yang hidup suatu saat pasti akan mati.” Boom! seperti sebuah kue dilemparkan langsung ke wajah ku. Ia secara tidak langsung bertanya ‘apa bedanya kita mati sekarang dengan kita mati 20 tahun lagi, toh pada akhirnya manusia pasti mati. Jadi sebenarnya tidak ada bedanya apabila kita mati sekarang juga, toh ujung-ujungnya pasti mati juga.’ Dan aku tidak bisa menjawab ataupun merespon pertanyaan itu pada waktu itu.

Aku sudah sering melihat di banyak film ketika seseorang dalam keadaan hampir mati, ia berjuang melawannya karena ia masih punya hal yang ingin dia capai. Things that he wants to accomplish. Pada waktu itu aku berpikir itu hanya film yang bisa dibuat – buat. Tapi kemudian aku membayangkan jika aku memang dalam keadaan hampir mati, hal apakah yang akan membuat aku terus berjuang untuk hidup? Jawabannya : tidak ada. Kemudian aku berpikir lagi, bahkan Yesus bisa berjuang ketika dalam perjalanan saat Ia akan disalib, saat dimana seharusnya Ia tidak mungkin bisa sampai karena sepanjang perjalanan terus disiksa. Tapi Ia terus berjuang, karena Ia punya hal yang ingin Ia capai dan yang ingin Ia selesaikan.
Some people would say “well that’s Jesus.” But for me it looks pretty the same.
Dan kemudian aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang ingin aku raih? kemudian aku membayangkannya ‘lulus kuliah, kerja, menikah, punya anak, tua, meninggal.’
That’s it?? apakah hanya itu saja??
Tidak, karena menurutku hal itu terlalu biasa dan membosankan. Aku ingin sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang lain. Dan tiba – tiba saja, Boom, sekarang aku selalu punya target, selalu tahu apa yang aku inginkan sampai sekecil – kecilnya. Terlalu banyak maunya kalau Kate bilang.
Yeah, beberapa orang berpikir bahwa hidup kita sudah ditentukan, bahwa kita hanya tinggal menjalani sesuai dengan apa yang biasa disebut dengan takdir. Tapi tidak bagiku, aku yang menentukan apa yang aku inginkan. Seperti lirik dalam lagu When I’m Gone-nya Simple Plan yang berkata : Cause life won’t wait, I guess it’s up to me. Ya aku tidak akan menunggu sampai hal – hal tertentu terjadi kepadaku. Aku lebih suka bertindak dan membuat hal tersebut terjadi.

Tuhan Yesus datang ke dunia dengan tujuan, begitu juga kita. Bedanya tujuan-Nya datang sudah ditentukan dan kita tidak. Ia sudah tahu bahwa Ia harus mati di kayu salib demi menebus dosa umat manusia sedangkan kita? bayangkan jika kita sudah tahu bahwa kita terlahir untuk mati di kayu salib hanya karena dosa yang tidak kita lakukan. Jadi berbahagialah kita yang masih bisa menentukan jalan hidup kita.

Karakter Alpha June 19, 2009

Posted by stevenlockhart in Articles, Journey of Life.
add a comment

Mengingat ingat masa lalu aku seakan – akan sedang bercermin dengan diriku di masa lalu. Aku yang sekarang sangat jauh berbeda dengan aku tiga tahun yang lalu, terutama dalam hal karakter, kepribadian dan cara berpikir. Aku merasa selama tiga tahun sudah berubah dan berkembang dan kadang aku merasa ingin kembali seperti aku yang dulu.

Perubahan yang paling terlihat adalah jika dulu aku tipikal orang yang ‘ikut – ikut aja’ dalam artian tidak terlalu pusing dengan keputusan yang dibuat oleh orang lain (plegmatis). Tapi kali ini aku selalu merasa bahwa akulah yang paling benar, bahwa ketika aku membuat suatu keputusan, aku sudah memikirkannya secara detil dan aku yakin orang lain tidak akan berpikir sejauh dan sedetil aku (koleris). Selain itu, aku merasa perasaan-untuk-selalu-ingin-tahu-segalanya dalam diriku semakin membesar dibandingkan aku yang dulu. Karena aku merasa aku-lebih-tahu itulah yang membuat sifat koleris ku menjadi semakin membesar, menurutku. Dan hal itu jugalah yang membuatku menjadi super sibuk belakangan ini, karena hampir semua hal aku yang urus, karena teman – temanku merasa aku lebih tahu dan aku lebih bisa. Hal inilah yang membuatku terkadang ingin memiliki sifat plegmatis seperti dulu dimana aku tidak perlu terlalu memikirkan segala hal terlalu banyak.

Hal ini terjadi ketika aku menemukan suatu hal yang disebut social dynamic. Di mana ketika ada satu kelompok, di dalam kelompok tersebut pasti ada satu orang alpha. Yang biasa sering disebut alpha male atau alpha female. Karakter alpha bisa kita temui dalam lingkungan kita sehari – hari seperti contohnya saja ketika kita sedang bersama teman – teman kita, seorang alpha akan tampil dengan membuat suatu keputusan – keputusan baik itu mulai dari hal kecil seperti ‘makan apa’, ‘pergi ke mana’, ‘main apa’ sampai hal – hal besar seperti merencanakan sesuatu, mengurus hal – hal tertentu, dll. Seorang leader biasanya memiliki karakter alpha di dalam dirinya. Tidak hanya dalam membuat keputusan, seorang alpha juga bisa kita lihat ketika seseorang selalu mendominasi pembicaraan dan membuat orang lain mendengarkan ia karena ia suka menjadi pusat perhatian, kalo dalam cerita – cerita fiksi yang biasa aku tonton ataupun baca disebut sebagai golongan populer. Tipikal karakter sanguinis juga memiliki karakter alpha di dalamnya.

Selain itu, social dynamic juga bicara tentang value. Dalam dunia sosial, seseorang cenderung lebih tertarik dengan orang yang memiliki nilai dalam dirinya. Kita cenderung lebih tertarik untuk bersosialisasi dengan orang – orang yang kita anggap punya suatu nilai lebih dibandingkan kita. Baik itu kita sadar ataupun tidak. When you’re talking to a person who you’ve just known, why do you waste your time talking with him/her. It’s simply because that person has value in whatever he/she says. Seseorang yang selalu bisa membuat orang lain tertawa adalah salah satu contoh bahwa ia memiliki value, dalam hal ini adalah sense of humor. Hal seperti inilah yang biasa dilakukan oleh para PUA (dalam tulisan – tulisanku sebelumnya) untuk Demonstrate Higher Value untuk membuat wanita tertarik kepada mereka. Mereka harus menunjukan bahwa mereka punya value lebih daripada sang wanita. Sayangnya hal itu juga berlaku dalam berhubungan sosial. Ketika kita tidak suka dengan seseorang itu dikarenakan orang tersebut tidak memiliki value yang sama atau lebih dari kita. Atau sebenarnya orang tersebut punya value lebih tapi dia tidak bisa menunjukannya. Seorang karakter alpha adalah seseorang yang punya value yang disadari oleh orang – orang disekitarnya.
Jadi kesimpulan dalam hal value adalah “seseorang ga akan pernah bisa tertarik ama orang yang value nya lebih rendah dari dia”

Selain itu, seorang karakter alpha juga punya rasa percaya diri yang besar. Bagaimana bisa membuat orang percaya kepada mereka jika mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri.

Mempelajari hal – hal seperti inilah yang membuat karakter dan kepribadianku berubah dibandingkan aku yang dulu. I learn it’s easy to become alpha. What isn’t so easy is staying that way.

Well, itu beberapa hal tentang karakter alpha. Apakah anda menyadari seorang alpha dalam lingkungan anda?

Board Games Day June 9, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life, Review (others).
3 comments

Hari Minggu kemarin bisa dibilang hari board game buatku. Karena, Jason tiba-tiba mengajak pergi ke toko Board Game yang bernama Strategos Utopia di Senayan Trade Center yang baru saja pindah lokasi yang sebelumnya berada di KTC Hypermart Kelapa Gading. Entah ada maksud mau membeli sebuah board game atau apa, yang jelas aku, Cynthia dan Jason mencoba sebuah demo game yang bernama Pandemic.

Pandemic adalah sebuah board game yang bertemakan kooperatif dengan objektif menyelamatkan dunia dari wabah penyakit Pandemic. Taglinenya sendiri berbunyi “Do you have what it takes to save the humanity.”
Tahap awal player memilih karakter secara random dimana ada 5 karakter dengan special ability yang berbeda-beda (Operation Expert, Researcher, Scientist, Medic, Dispatcher). Kemudian men-setting kartu-kartu negara, kartu epidemic (wabah penyakit), dan kartu penyebaran virus penyakit serta menentukan tingkat kesulitan game ini.
Di setiap turn pemainnya, wabah penyakit akan bertambah yang ditandai dengan kubus. Satu negara maksimal hanya bisa menampung 3 kubus, jadi jika negara tersebut terkena penyakit lagi maka kubus yang harusnya menjadi 4 akan ditularkan ke negara sebelah-sebelahnya. Event ini dinamakan Outbreak.
Player dinyatakan menang jika sudah berhasil menemukan 4 macam vaksin sebelum virus penyakit menular terlalu parah.
Player dinyatakan kalah jika tingkat Outbreak sudah mencapai level 8 alias penyebaran virus penyakit sudah tidak bisa ditolong lagi.

Memainkan 2 round game ini menghabiskan waktu sekitar dua jam. Dan karena ini adalah game demo jadi kami bisa memainkannya di tempat. Pada akhirnya Jason memutuskan untuk membeli game ini dan terlihat cukup antusias.

Setelah selesai menghabiskan waktu seharian di Senayan, kami memutuskan untuk kembali ke tempatku. Karena ada penambahan anggota sebanyak 2 orang, kali ini kami memainkan board game yang bernama Cuba. Sebuah game yang bertemakan civilization negara Cuba mulai dari jalur perdagangan, pemilihan presiden yang bisa dilakukan dengan menyogok, penetapan kebijakan pajak, subsidi dll, proses produksi bahan mentah menjadi bahan baku, sampai pembangunan gedung menggunakan sumber daya alam di negara tersebut.
Menghabiskan waktu 2 jam untuk menyelesaikan 1 round game ini sehingga jam 10 malam Jason baru bisa pulang ke rumahnya. Mungkin suatu saat aku akan mencoba untuk menulis reviewnya.

The Seven Habits of Highly Effective PUAs May 29, 2009

Posted by stevenlockhart in Articles, Journey of Life.
add a comment

Here is some articles that I like to share with everyone especially men about Pick Up Artist (PUA) stuff. Ever since I was dating Kate, I never touched this kind of stuff again. Eventhough I have a lot of access to a lot of resources about this kind of things, but I decided to quit for undefinited time. It’s like putting a lot of stuff (or skill in this case) to a box and seal it.
But this time, I got interested in the subject of the newsletter which came into my email. Kinda seven-habits-for-most-highly-effective-people look alike. You know, one of the most popular book which was writen by Stephen R. Covey which then followed by the next book called ‘The Eighth Habit’. So I decided to read it for a while and share it with all of you who read it. All credits goes to whoever wrote this (Savoy I guess).

=====================================================
Seven things top gurus know now that we wish we’d known then:

1) Measure skills, not results.

Men usually like results. You made $50,000 last year. You fixed up your dream car. Your team won. Your investments went up 15% went up 5% only went down 25% are still, technically, worth something. You slept with this many women. Etc.

You can’t do this with women and dating.

Being results-focused will actually hurt your game.

If your goals are phone numbers, dates, same night lays, or whatever, you risk coming across as needy. You will be approaching women obviously wanting something. Women can “smell” an agenda.

Your inner game and confidence will also suffer. If your goal is to take a hot girl home tonight but the hottest girl at the party has a photo shoot at dawn the next morning, what are you going to do?

Sure, you can make excuses and exceptions, but that’s a slippery slope and will eventually make all of your goals meaningless.

Focus on what YOU can control and what YOU need to be working on. For example:
* Suffering from approach anxiety? – approach 10 women today.
* Avoiding mixed groups (men & women)? – approach 3 mixed groups today.
* Not naturally physically demonstrative or “touchy?” – touch (appropriately) every person you meet today within 30 seconds.

2) Fashion and grooming matter – a lot.

If you’ve read my book Magic Bullets, especially the chapter on fashion, then you already know this.

Unfortunately, there are way too many people out there pretending that “looks don’t matter.”

Of course they do.

But, they matter in a different sort of way to most women than to men, and not just because they’re not quite as important. It’s also because women judge looks not only on a visual level, but also for what your looks say about your personality.

And that’s mostly about fashion and grooming (mostly hair).

This is a GREAT thing about being a guy – you can go from ugly to attractive with the right changes to clothes and hair.

By “attractive” I don’t mean you can get into fashion magazines. I mean “your appearance is enough to interest beautiful women.”

(Check out the before and after photos in Magic Bullets for live examples.)

Those are very different things. That’s why I don’t recommend you go shopping with women. Yes, they can make you look fashionable. But, they won’t dress you to cut through the clutter and announce to other women: “I am a man with something to offer.”

I remember the first time I heard a girl call Love Systems Instructor Cajun “hot.” I nearly spat out my drink. He’s a weedy little guy. But, he was dressed in a way that conveyed a powerful identity that he was congruent with. And having sick game doesn’t hurt either.

I’m no great shakes either. No woman (except my mom, God bless her) ever said I was handsome until I changed my style.

Use your clothes and grooming to tell women what kind of person you are – relate fashion choices to your identity. Take care of your appearance (especially the details, like shoes), be in touch with yourself, dress appropriately but with a sense of purpose, or fun, etc. All of that is much more important to her (and to your “looks”) than what you look like with your shirt off.

The odds are that, whatever your physical imperfections, there are tons of guys with less going for them than you have who are doing just fine.

This can be fixed in a day. So do it.

3) Being attractive to women isn’t something you switch on and off.

I’ve seen lots of guys be one kind of person for 90% of the time and then attempt to be a pick up wizard the other 10%. It doesn’t work.

To be a positive, outgoing, confident, relaxed, and interesting person when you meet women, your best bet is to focus on being that person all the time.

Trying to turn it on and off risks women seeing you as “acting” or “playing a role.” You won’t feel comfortable or natural, and that will show.

This is a BIG reason why the “guru” approach simply does not work and why you’re part of the Love Systems Community, not Savoy’s Community.

And why over 20 of the world’s best dating coaches and pick up artists, most of whom could easily be the “headline star,” decided to hold themselves to a higher standard and make something special.

So, if what you think you need to do to attract and date women is SO different from your “natural” personality that you have to turn it “on” and “off” THEN YOU ARE DOING THE WRONG THING.

In other words, make dating and seduction techniques work for you. Don’t try to become a different person to fit the techniques.

4) Change her mood, not her mind.

Women are generally not logical, at least as most men understand the term. This goes double in their social lives, and even more so when it comes to men and dating.

If you expect her to think and act like you, you’re just going to be frustrated and disappointed (and miss out on the unique feminine aspects of her personality).

I can’t think of how many nights I went home alone in the early days, having failed to convince a woman who was attracted to me that her friends would get home fine / she’d be just fine the next day / a 45 minute drive home isn’t that bad, really / and so on.

It never worked. What does work is amping her sense of fun, adventure, attraction, etc. – making her emotionally want to come (ahem) instead of logically.

It’s the same principle as when guys ask “I love this routine and that routine in the Routines Manual, but how do I get from one to the other?”

It’s a logical question – and therefore doesn’t matter.

If the emotions are good, the logical side either doesn’t hit her radar screen or is rationalized away. If she’s enjoying the conversation, she doesn’t care why you switched topics.

This also explains how a woman can spend hours over dinner explaining to some guy that she really likes men who are nice, who take things slow, who bring her flowers, etc… and then slip her phone number to a man who makes her feel (not think) attraction.

5) It’s not the first thing you say – it’s the second.

So many guys are worked up about what to say when they approach a woman, that it feels almost cruel to reveal this, but… what you say NEXT is much more important.

Sure, you can blow yourself out by approaching a girl and saying the wrong thing. “Can I buy you a drink?” and “It’s sure loud in here” count as “wrong things.”

But, regardless of how clever, direct, spontaneous, etc., the first thing you say is, after her response she’ll be looking at you expectantly wondering what you’re going to say next.

If you’ve been around for a while, you’ll recognize this issue – early on we had great openers and great attraction material, but no great way to transition between the two.

That’s why we created the Transitioning phase, first revealed in Magic Bullets (you can read about it in the free chapters).

This applies equally whether you “go direct” or “go indirect,” or even waltz up to a woman and say something nonsensical (or even borderline offensive).

Of course, the first thing you say can blow you out.

But more likely, if you’re getting blown out on the opener, it’s a problem with body language and/or tonality. This is really hard to fix by yourself; get someone who knows what he’s doing to watch your game and give you honest feedback.

6) Don’t wait.

There’s an old cliché that no one on his deathbed ever wishes he had spent more of his life in the office.

Well – no one ever wishes he’d waited longer before getting good at Love Systems.

No one ever wishes he could have had just another few months, or years, of not being able to get the girls he wanted.

Yes, it can seem overwhelming. And while it’s easy to find excuses, you CAN make a priority for what’s important to you. No matter how long, every successful journey always begins the same way – with a single step.

You have the power to take that step TODAY.

As a technical question, I sometimes get asked whether you should take your bootcamp as soon as possible or whether you’ll get more out of it if you learn on your own first.

It is true that the more advanced you are going into a bootcamp, the more advanced you’ll be coming out. There are more nuances and subtleties to pick up on and you’ll be able to make better use of the more advanced material.

But, it’s almost always a better idea to do it earlier. Part of the value of a bootcamp is that we can tell you exactly what you need to work on and in what order. This is often very different from what most guys THINK their sticking points are.

Also, the longer you go without getting a very successful man to critique your game, the more you will internalize your bad habits. It’s actually easier to train someone who has never approached a woman in his life than someone who has 1,000 approaches under his belt.

And then there’s math. If you wait 6 months and take a bootcamp, you’ll probably be at or slightly better than the level you’d be at if you took a bootcamp now. But, if you take a bootcamp now and then keep practicing for 6 months, you’ll be MUCH further ahead than if you had waited.

As an example, Braddock was already being considered as a junior instructor just six months after his bootcamp (he’s now a senior instructor). No one is ever at instructor level right after completing a bootcamp.

7) Make it fun!

I don’t know where people got the idea that dating and attracting beautiful women was supposed to be some painful process.

It can’t be, if you want to be successful. Borrowing from some of Love Systems Instructor Mr. M’s breakthroughs, if you’re not having fun, she’s unlikely to be having fun either. This happens through something called mirror neurons.

Some people complain that they don’t like bars and clubs (or a particular bar or club). This one’s pretty easy. Go places you like, where you like the music and the atmosphere. This will also make you want to come back, and as you get to know people at a specific place, you have more opportunities to be “known” and have “social proof” there.

If you don’t like bars and clubs, do day game. The same beautiful women that go out to clubs also go to malls, coffee shops, theatres, galleries, sporting events, and so on. Meet them there.

Or, you might be putting too much pressure on yourself, jumping suddenly between un-social and social activities, or one of a million other “state” killers.

But in general – if there’s one thought I can leave you with:

If it’s not fun, you’re doing something wrong.
=====================================================

Okay, now I feel a little guilty of over sharing it. But I’m sure if you’re new to this stuff, you only understand half of them. Be sure to use them wisely

Enter the World : Journalism May 25, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life.
add a comment

Terkadang, aku sering terpikir untuk menjadikan jurnalistik sebagai salah satu pilihan karirku nanti. Bukannya tanpa sebab atau hanya keinginan tiba-tiba, tapi pemikiran itu muncul berdasarkan beberapa pengalaman yang aku dapatkan selama terlibat dalam dunia tulis menulis itu.

Aku tak tahu mana yang lebih dulu, tapi sejak SMA aku sudah suka membaca baik itu novel ataupun majalah yang aku beli setiap bulan yang membuatku sering kena omel ortu karena menghabiskan uang hanya untuk membeli majalah yang mereka anggap tidak penting. Lalu aku tergabung dalam ekskul jurnalistik yang terlibat dalam pembuatan majalah sekolah. Pada waktu itu, aku memilih ekskul tersebut bukan karena ketertarikanku pada bidang menulis, tapi lebih karena itu satu-satunya ekskul yang ‘santai’ dan tidak merepotkan dibandingkan ekskul lain. Karena aku hanya perlu menulis sebuah artikel yang dengan mudah bisa aku sadur dari majalah-majalah yang aku baca.

Bisa dibilang ‘trigger’ utamanya adalah saat aku les Inggris dimana levelku sudah sampai TOEFL Preparation, aku dibuat (baca :dipaksa) untuk mempelajari Writing yang isi pelajarannya adalah ‘How to make a good composition’ atau lebih seringnya disebut menulis sebuah essay. Selama satu setengah tahun aku diajarkan dan dibimbing oleh guruku tentang bagaimana membuat sebuah kalimat dan paragraf yang baik seperti misalnya : tidak boleh ada kalimat yang berulang, baik itu jenis karangan argumentasi ataupun deskripsi. Selain itu aku beserta teman-teman lesku yang lain dibuat untuk menyukai menulis sebuah essay. And what can I say? it worked.

Sewaktu kuliah dan tahun pertama di HIMTI, aku tergabung dalam divisi HIMTIMagz selain divisi DVD pada waktu itu dengan pemikiran aku bisa sambilan menulis dan menambah pengetahuan tentang membuat sebuah tulisan untuk sebuah majalah. Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata aku ditempatkan di divisi entah sebagai desainer atau layouter pada waktu itu. Karena pada waktu itu masih tahun pertamaku, aku tidak protes dan hanya diam-diam saja. Ditambah lagi kesibukanku di divisi dan kerjaan-kerjaan lainnya membuatku menghilang dari divisi HIMTIMagz. Dan selama itu, aku hanya sibuk menulis di blogku yang aku buat sejak aku masuk kuliah lalu pindah ke buku jurnal pribadiku yang hanya boleh dibaca olehku saja.

Sampai pada suatu hari aku menerima SMS dari Lizzie yang pada waktu itu menjabat sebagai Editor in Chief yang baru. Aku lupa apa isi pesannya waktu itu, tapi intinya dia menanyakan apakah aku masih ingin tergabung dalam majalah ini. Yang kemudian aku jawab kalau aku mau tapi aku ingin sebagai penulis. Sebuah keputusan yang tidak pernah aku sesali dan ia memberikan tugas pertamaku untuk meliput ultah HIMTI, selain menulis event itu, aku juga menulis sebuah artikel tentang kepribadian ganda untuk edisi berikutnya di rubrik Miscellaneous. Sempat menulis artikel juga tentang Thanksgiving yang aku post di forum Magz sebagai ajang training buat penulis, tapi sayang pada waktu itu forum terkena roll back sehingga hilang semua postingan yang pernah dibuat.

Kepengurusan pun berubah lagi di tahun berikutnya, kali ini Ellie sebagai Editor in Chief yang baru. Tapi, aku lupa alasan utama apa yang membuatku memutuskan untuk ‘hengkang’ dari Magz selain alasan berubah-rubahnya rubrik yang aku tulis sehingga aku tidak menemukan konsistensi dalam penulisan. Sebuah keputusan yang sedikit aku sesali karena sekarang aku berpikir mungkin jika aku masih tergabung, aku bisa membuat isi majalah tersebut menjadi lebih berbobot pada waktu itu.

Tapi dosen AI-ku membuat semua mahasiswanya untuk membuat blog dan blog inilah salah satunya setelah beberapa kali pindah-pindah blog untuk menulis. Meskipun menulis untuk blog sendiri artinya menulis dengan ‘seenak jidatnya’ si penulis tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku menulis dengan bahasa yang agak formal karena pengaruh pembelajaran writing waktu les dulu.

Selain pengalaman dalam dunia tulis menulis, hal lain yang membuatku berpikir tentang jurnalistik adalah hobiku dalam fotografi dan mendokumentasikan momen-momen yang terjadi. Kesukaanku untuk jalan-jalan ke tempat-tempat yang jarang aku kunjungi, serta kecenderunganku untuk selalu mempelajari suatu hal baru.

Farewell Party : Rooftop, Plaza Semanggi May 23, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life, Review (others).
Tags: , , , ,
add a comment

Kemarin, tepatnya hari Jumat tanggal 22 Mei 2009 HIMTI mengadakan sebuah farewell party untuk angkatan 2005 yang telah lulus atau lebih tepatnya berubah status dari pengurus menjadi alumni yang diadakan di Toast Cafe, Sky Dining Plaza Semanggi atau mungkin yang lebih dikenal dengan Rooftop.

Karena ditujukan untuk angkatan 2005, maka angkatan 2006 lah yang bertugas mempersiapkan acara tersebut. Beruntung bagi kami semua karena tidak terjadi hujan pada hari H yang berhasil menghapus kecemasan kami akan satu skenario terburuk yang bisa diprediksi tapi tidak bisa dicegah, karena arti dari Sky Dining berarti beratapkan langit dan acara akan kacau jika hujan turun.

Acara yang seharusnya dimulai pukul 7 ini dihadiri mulai dari angkatan 2003 – 2008 dan semua peserta sibuk berfoto-foto dengan pemandangan dari atas kota Jakarta pada malam hari. Dan akhirnya setelah berhasil membuat semua duduk, acara dibuka dengan kata-kata pembuka dari mantan ketua HIMTI angkatan 05, lalu langsung dilanjutkan dengan makan. Santapan yang dihidangkan kali ini berupa prasmanan sehingga setiap orang bisa mengambil makanannya sendiri-sendiri. Setelah selesai makan, ada sedikit persembahan dari angkatan 2006 yaitu berupa sebuah movie tentang kesan selama bekerja dan bergaul bersama angkatan 2005. Tapi sayang karena ditampilkan hanya menggunakan laptop, alhasil suaranya tidak bisa terdengar. Namun mereka mendapatkan copy-an movie tersebut dalam bentuk CD.

Selanjutnya giliran anak-anak 2007 yang memberikan persembahan. Mereka semua berjalan bersama-sama membawa kue sambil menyanyikan lagu Mars HIMTI dan ‘Ingatlah Hari Ini’ yang diberikan kepada DPI HIMTI 05. Selanjutnya seluruh anak-anak 05 berkumpul dan menjadi objek foto bagi kami-kami semua yang memegang kamera.

Setelah itu, acara selesai, dilanjutkan dengan acara pribadi masing-masing. Aku sendiri pergi ikut karaoke bersama beberapa teman-teman yang lain dan Kate, karena kami semua masih belum mau pulang dan berpikir jarang-jarang kami semua bisa kumpul bersama-sama seperti ini.

Final Fantasy VII : Advent Children (Bluray Version) May 21, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life, Review (film).
Tags: , , ,
add a comment

3209453332_00df3623c9
Setelah selesai mendownload 35 part FF VII versi bluray di mana size per partnya adalah 200 MB, aku mencoba untuk menggabungkannya menggunakan HJSplit. Tapi entah kenapa tiba-tiba muncul pesan error yang mengatakan “The drive destination is full or not ready” padahal drive penyimpanannya masih tersisa 30GB. Dan akhirnya file yang berhasil di join hanya 3.99 GB saja yang ketika aku mencoba untuk menontonnya terputus di adegan pertarungan melawan Bahamut.

Ternyata, mungkin ada sedikit masalah dengan HDD eksternal ku, karena ketika aku mencoba menyimpannya di drive lain, file tersebut sukses digabungkan dan size totalnya adalah 6.8 GB. Entah kenapa, mungkin karena format HDDku yang masih FAT32.

FF VII versi Bluray ini memberikan kualitas gambar yang jauh di atas kualitas DVD. Ditambah lagi beberapa adegan-adegan tambahan yang dimasukan ke dalam versi ini yang tidak ada di versi sebelumnya. Tapi sayang ketika aku mencoba untuk menontonnya, format film ini .mkv dan entah kenapa sedikit terpatah-patah. Mungkin karena pengaruh kurangnya kecepatan memori komputerku untuk membaca file sebesar ini, atau karena aku mencoba melompat langsung ke beberapa scene sehingga butuh waktu proses yang agak lama.

Aku kurang begitu bisa membedakan kualitas suara, jadi suara versi bluray ini aku anggap masih tidak ada perbedaan yang signifikan dari versi sebelumnya.

Pada akhirnya, tambahan durasi setengah jam yang disisipkan pada adegan/scene tertentu pada versi ini plus kualitas grafik yang luar biasa cukup buatku untuk menyaksikan dan menikmati lagi salah satu film favoritku ini.

Berikut salah satu adegan yang hanya ada pada versi ini.

final-fantasy-vii-advent-children-complete-20070512014744510

Change of Pace : Correspondence World May 20, 2009

Posted by stevenlockhart in FOF, Journey of Life.
add a comment

DSC00100 copy

Change of Pace. Itu adalah sebuah istilah dalam basket dimana terjadi perubahan dalam dribble. Ok, aku memutuskan untuk merubah konsep blog ini dari yang awalnya berupa sebuah cerita gabungan antara fakta dan harapan yang ditulis dalam bahasa Inggris menjadi sebuah cerita tentang pemikiran dan kejadian tentang segala hal yang terjadi dalam duniaku. Selain itu aku juga menambahkan bahasa Indonesia selain bahasa Inggris yang mungkin masih akan tetap aku gunakan karena ternyata ada banyak hal yang tidak bisa di deskripsikan dengan satu bahasa saja.

Sebenarnya sudah lama aku berpikir untuk merubah blog ini karena ternyata aku semakin jarang menulis dan akhirnya suatu hal berhasil men-trigger ku untuk melakukan perubahan ini. Hal itu adalah koresponden yang aku lakukan ketika masih sekolah dulu. Aku sedikit bersyukur ketika membacanya lagi karena ternyata buku itu adalah sebuah dokumentasi tentang kehidupan sekolah ku dulu sehingga aku masih bisa mengingat dengan jelas hal-hal yang terjadi pada waktu itu.

Karena itu aku memutuskan untuk membuat blog ini sebagai dokumentasi tentang kehidupanku sekarang. Karena kita tak pernah tahu bahwa kita sedang membuat kenangan.
DSC00105copy1