jump to navigation

Transformers 2 : Awesome June 25, 2009

Posted by stevenlockhart in Review (film).
Tags: ,
1 comment so far

Sekuel dari salah satu film favoritku akhirnya keluar juga, Transformers : Revenge of the Fallen. Pergi menonton film ini di EX yang menyediakan 6 theatre di mana 5 diantaranya khusus untuk Transformers saja dan 2 dari 5 sudah full. Bahkan temanku mengatakan di TA ngantri dari jam 11 siang dapetnya untuk yang jam 9 malam pada saat penayangan pertama film ini.

Film ini melanjutkan serial pertamanya di mana mengisahkan bahwa kaum robot (Cybertron) sudah berkelana keliling alam semesta sejak 17000 BC termasuk bumi untuk mendapatkan sumber energi untuk kelangsungan hidup mereka. Terdapat 6 orang Prime (mungkin leader dalam istilah mereka) pada waktu itu dan mereka sepakat untuk tidak menghancurkan planet yang memiliki sumber energi. Tapi salah satu dari mereka berkhianat, dan mencoba menggunakan sebuah mesin yang digabungkan dengan semacam kunci sebagai sumber energi untuk menghisap matahari, dia adalah The Fallen. Namun Prime yang lain bertindak, dan mengorbankan diri mereka untuk menyegel kunci yang memiliki energi tersebut sehingga mesin tidak bisa diaktifkan.
Setelah 2 tahun dari setting Transformers 1, Optimus dkk membantu pihak militer untuk mengejar dan membasmi kaum Decepticons yang masih tersisa. Namun pada akhirnya mereka harus benar – benar muncul ke permukaan setelah kebangkitkan Megatron menggunakan pecahan All Spark yang tersisa. Namun ternyata Megatron pun dalam misi yang diberikan oleh The Fallen yang masih terobsesi dengan ambisinya yang digagalkan untuk menghisap matahari.
Maka dimulailah perburuan, ditambah pecahan – pecahan All Spark yang masih tersisa membuat kaum Decepticons dan Autobots berlomba – lomba mencari kunci tersebut untuk kepentingan mereka masing – masing.

Overall film ini keren. Robot – robot yang bertambah banyak, serta humor – humor yang disisipkan dalam setiap adegannya membuat film ini menjadi lebih hidup dan tidak terlalu serius. Dan juga adegan – adegan action yang ada, ditambah penempatan lagu yang pas sebagai pengiring adegan membuat banyak orang rela mengantri untuk bisa menyaksikan film yang berdurasi sekitar dua setegah jam ini.

Aku paling suka setiap adegan yang ada sang robot kembar Twin, karena dengan adanya mereka, selalu saja ada hal – hal lucu yang terjadi.

Aku tidak kebayang apa jadinya pada weekend (Sabtu, Minggu) nanti jika hari biasa seperti ini saja ramainya sudah seakan – akan ada bagi sembako. And by the way, Megan Fox is hot!

Why do we live? June 22, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life.
add a comment

Banyak orang berkata ketika kita berumur sekitar 15-17 tahun, itu adalah saat – saat dimana kita sedang dalam pencarian jati diri. Yang berarti tentang hal – hal apa sih yang ingin kita lakukan dalam hidup kita, kita mau jadi apa, dan apa yang ingin kita lakukan dengan hidup kita. Stuffs like that. Pada waktu itu, aku sama sekali tidak mengerti tentang apa itu pencarian jati diri, aku hanya berpikir untuk menjalani hidup seperti biasa hari demi hari.

Sampai pada suatu saat aku menemukan sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari salah satu tokoh game dalam Final Fantasy yang bertanya : “Mengapa manusia begitu ingin hidup padahal tahu semua yang hidup suatu saat pasti akan mati.” Boom! seperti sebuah kue dilemparkan langsung ke wajah ku. Ia secara tidak langsung bertanya ‘apa bedanya kita mati sekarang dengan kita mati 20 tahun lagi, toh pada akhirnya manusia pasti mati. Jadi sebenarnya tidak ada bedanya apabila kita mati sekarang juga, toh ujung-ujungnya pasti mati juga.’ Dan aku tidak bisa menjawab ataupun merespon pertanyaan itu pada waktu itu.

Aku sudah sering melihat di banyak film ketika seseorang dalam keadaan hampir mati, ia berjuang melawannya karena ia masih punya hal yang ingin dia capai. Things that he wants to accomplish. Pada waktu itu aku berpikir itu hanya film yang bisa dibuat – buat. Tapi kemudian aku membayangkan jika aku memang dalam keadaan hampir mati, hal apakah yang akan membuat aku terus berjuang untuk hidup? Jawabannya : tidak ada. Kemudian aku berpikir lagi, bahkan Yesus bisa berjuang ketika dalam perjalanan saat Ia akan disalib, saat dimana seharusnya Ia tidak mungkin bisa sampai karena sepanjang perjalanan terus disiksa. Tapi Ia terus berjuang, karena Ia punya hal yang ingin Ia capai dan yang ingin Ia selesaikan.
Some people would say “well that’s Jesus.” But for me it looks pretty the same.
Dan kemudian aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang ingin aku raih? kemudian aku membayangkannya ‘lulus kuliah, kerja, menikah, punya anak, tua, meninggal.’
That’s it?? apakah hanya itu saja??
Tidak, karena menurutku hal itu terlalu biasa dan membosankan. Aku ingin sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang lain. Dan tiba – tiba saja, Boom, sekarang aku selalu punya target, selalu tahu apa yang aku inginkan sampai sekecil – kecilnya. Terlalu banyak maunya kalau Kate bilang.
Yeah, beberapa orang berpikir bahwa hidup kita sudah ditentukan, bahwa kita hanya tinggal menjalani sesuai dengan apa yang biasa disebut dengan takdir. Tapi tidak bagiku, aku yang menentukan apa yang aku inginkan. Seperti lirik dalam lagu When I’m Gone-nya Simple Plan yang berkata : Cause life won’t wait, I guess it’s up to me. Ya aku tidak akan menunggu sampai hal – hal tertentu terjadi kepadaku. Aku lebih suka bertindak dan membuat hal tersebut terjadi.

Tuhan Yesus datang ke dunia dengan tujuan, begitu juga kita. Bedanya tujuan-Nya datang sudah ditentukan dan kita tidak. Ia sudah tahu bahwa Ia harus mati di kayu salib demi menebus dosa umat manusia sedangkan kita? bayangkan jika kita sudah tahu bahwa kita terlahir untuk mati di kayu salib hanya karena dosa yang tidak kita lakukan. Jadi berbahagialah kita yang masih bisa menentukan jalan hidup kita.

The Mentalist June 21, 2009

Posted by stevenlockhart in Review (film).
add a comment

Well, sebuah film seri baru, sudah cukup lama sebenarnya namun baru aku tonton sekarang karena aku takut, sekali aku nonton aku tidak bisa berhenti seperti halnya ketika aku menonton How I Met Your Mother.
Dan itu benar – benar terjadi. Di saat sudah mendekati ujian akhir, aku malah asyik nonton film seri yang baru kutemukan ini.

Well seperti judulnya, film ini berceritakan tentang seseorang yang bernama Patrick Jane. Seseorang yang mempunyai kemampuan observasi dan penarikan kesimpulan di atas rata – rata dan pernah menggunakan kemampuannya untuk membuat orang – orang percaya seolah – olah dia adalah seorang psychic. Jane menjadi penasehat bagi CBI (California Bureau Investigation) untuk memecahkan beberapa kasus kriminal hanya dengan mengandalkan pengamatannya yang tajam pada hal-hal kecil. Bahkan dengan kemampuannya, ia pernah menghipnotis seorang saksi dan membuat saksi itu untuk menceritakan semua kejadian yang sebelumnya ia sembunyikan.
Namun Jane juga sedang dalam misi. Dikarenakan pekerjaan sebelumnya sebagai seorang psychic, ia membuat seorang penjahat bernama Red John marah dan membunuh istri dan anaknya. Maka dimulailah petualangan Jane dengan agen – agen CBI lainnya dalam memecahkan kasus.

Setelah menonton beberapa episodenya, aku langsung teringat pada karakter Sherlock Holmes. Sherlock memiliki kemampuan yang nyaris mirip dengan Jane, mengandalkan kemampuan analisa, pengamatan dan pengambilan kesimpulan yang tajam. Aku seakan – akan sedang melihat novel karangan Sir Arthur Conan Doyle tersebut difilmkan.

Berbeda dengan film – film yang pernah aku tonton seperti Prison Break yang menampilkan kecerdikan sang tokoh dalam merencanakan sesuatu dengan sempurna, The Mentalist lebih ke arah memanipulasi cara dan jalan pikiran seseorang sehingga orang tersebut memikirkan apa yang kita ingin dia pikirkan. Bayangkan jika Deddy Corbuzier atau Romy Rafael menjadi seorang penegak hukum. Itulah film ini.

Mentalist :
– Someone who uses mental acquity, hypnosis, and/or suggestion.
– A master manipulator of thoughts and behaviour.

Jane : Why do magicians have beautiful girls assistants? Because they’re reliable distracters of attention. People will look at a beautiful girl for a long time before they look where they should be looking if they wanna see how the trick really works.

Karakter Alpha June 19, 2009

Posted by stevenlockhart in Articles, Journey of Life.
add a comment

Mengingat ingat masa lalu aku seakan – akan sedang bercermin dengan diriku di masa lalu. Aku yang sekarang sangat jauh berbeda dengan aku tiga tahun yang lalu, terutama dalam hal karakter, kepribadian dan cara berpikir. Aku merasa selama tiga tahun sudah berubah dan berkembang dan kadang aku merasa ingin kembali seperti aku yang dulu.

Perubahan yang paling terlihat adalah jika dulu aku tipikal orang yang ‘ikut – ikut aja’ dalam artian tidak terlalu pusing dengan keputusan yang dibuat oleh orang lain (plegmatis). Tapi kali ini aku selalu merasa bahwa akulah yang paling benar, bahwa ketika aku membuat suatu keputusan, aku sudah memikirkannya secara detil dan aku yakin orang lain tidak akan berpikir sejauh dan sedetil aku (koleris). Selain itu, aku merasa perasaan-untuk-selalu-ingin-tahu-segalanya dalam diriku semakin membesar dibandingkan aku yang dulu. Karena aku merasa aku-lebih-tahu itulah yang membuat sifat koleris ku menjadi semakin membesar, menurutku. Dan hal itu jugalah yang membuatku menjadi super sibuk belakangan ini, karena hampir semua hal aku yang urus, karena teman – temanku merasa aku lebih tahu dan aku lebih bisa. Hal inilah yang membuatku terkadang ingin memiliki sifat plegmatis seperti dulu dimana aku tidak perlu terlalu memikirkan segala hal terlalu banyak.

Hal ini terjadi ketika aku menemukan suatu hal yang disebut social dynamic. Di mana ketika ada satu kelompok, di dalam kelompok tersebut pasti ada satu orang alpha. Yang biasa sering disebut alpha male atau alpha female. Karakter alpha bisa kita temui dalam lingkungan kita sehari – hari seperti contohnya saja ketika kita sedang bersama teman – teman kita, seorang alpha akan tampil dengan membuat suatu keputusan – keputusan baik itu mulai dari hal kecil seperti ‘makan apa’, ‘pergi ke mana’, ‘main apa’ sampai hal – hal besar seperti merencanakan sesuatu, mengurus hal – hal tertentu, dll. Seorang leader biasanya memiliki karakter alpha di dalam dirinya. Tidak hanya dalam membuat keputusan, seorang alpha juga bisa kita lihat ketika seseorang selalu mendominasi pembicaraan dan membuat orang lain mendengarkan ia karena ia suka menjadi pusat perhatian, kalo dalam cerita – cerita fiksi yang biasa aku tonton ataupun baca disebut sebagai golongan populer. Tipikal karakter sanguinis juga memiliki karakter alpha di dalamnya.

Selain itu, social dynamic juga bicara tentang value. Dalam dunia sosial, seseorang cenderung lebih tertarik dengan orang yang memiliki nilai dalam dirinya. Kita cenderung lebih tertarik untuk bersosialisasi dengan orang – orang yang kita anggap punya suatu nilai lebih dibandingkan kita. Baik itu kita sadar ataupun tidak. When you’re talking to a person who you’ve just known, why do you waste your time talking with him/her. It’s simply because that person has value in whatever he/she says. Seseorang yang selalu bisa membuat orang lain tertawa adalah salah satu contoh bahwa ia memiliki value, dalam hal ini adalah sense of humor. Hal seperti inilah yang biasa dilakukan oleh para PUA (dalam tulisan – tulisanku sebelumnya) untuk Demonstrate Higher Value untuk membuat wanita tertarik kepada mereka. Mereka harus menunjukan bahwa mereka punya value lebih daripada sang wanita. Sayangnya hal itu juga berlaku dalam berhubungan sosial. Ketika kita tidak suka dengan seseorang itu dikarenakan orang tersebut tidak memiliki value yang sama atau lebih dari kita. Atau sebenarnya orang tersebut punya value lebih tapi dia tidak bisa menunjukannya. Seorang karakter alpha adalah seseorang yang punya value yang disadari oleh orang – orang disekitarnya.
Jadi kesimpulan dalam hal value adalah “seseorang ga akan pernah bisa tertarik ama orang yang value nya lebih rendah dari dia”

Selain itu, seorang karakter alpha juga punya rasa percaya diri yang besar. Bagaimana bisa membuat orang percaya kepada mereka jika mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri.

Mempelajari hal – hal seperti inilah yang membuat karakter dan kepribadianku berubah dibandingkan aku yang dulu. I learn it’s easy to become alpha. What isn’t so easy is staying that way.

Well, itu beberapa hal tentang karakter alpha. Apakah anda menyadari seorang alpha dalam lingkungan anda?

Prison Break – ends June 13, 2009

Posted by stevenlockhart in Review (film).
add a comment

Salah satu serial TV favoritku akhirnya tamat. Prison Break officially ended in 4th season. Setelah menjalani empat musim akhirnya film ini tamat dengan ending yang agak aneh menurutku meskipun tidak bisa dibilang jelek juga. Inilah serial tv pertama yang aku tonton dari awal sampai habis. Bahkan Smallville saja yang aku sudah berhenti menontonnya di pertengahan season 7 masih belum tamat sampai sekarang.

Di season keempat ini, Michael Scofield dkk bertekad untuk menjatuhkan sebuah organisasi (yang biasa disebut The Company) yang membuat mereka dipenjara beberapa kali dan membersihkan nama mereka dengan berusaha mengambil (mencuri lebih tepatnya) sebuah black book milik organisasi tersebut. Black book tersebut berupa sebuah kartu bernama Scylla. Konflik menjadi semakin panjang setelah diketahui bahwa Scylla ternyata terpecah menjadi 6 bagian dimana masing-masingnya dipegang oleh orang-orang penting di dalam Company dan dijaga dengan sangat ketat. Maka Michael dkk harus menggunakan kejeniusan dan kecerdikannya untuk bisa merebut kartu-kartu tersebut tanpa diketahui oleh orang yang memegangnya bahwa kartu tersebut sudah dicuri.
Tapi ternyata tidak hanya Michael yang juga berusaha memiliki Scylla, terdapat beberapa kelompok lain yang juga ikut memburu kartu tersebut untuk kepentingan pribadinya. Salah satunya adalah ibunya sendiri.

Saat aku selesai menonton episode 22, aku berpikir ini adalah episode terakhir yang terkesan dipaksakan untuk tamat. Namun ternyata masih ada tambahan dua episode lagi (sort of like an alternative ending) yang menjelaskan dan menggambarkan akhir yang sebenarnya. Sebuah film bertemakan adu kecerdikan yang berhasil membuatku tertarik untuk bisa memiliki otak sehebat itu dan belajar merencanakan sesuatu dengan detail.

Board Games Day June 9, 2009

Posted by stevenlockhart in Journey of Life, Review (others).
3 comments

Hari Minggu kemarin bisa dibilang hari board game buatku. Karena, Jason tiba-tiba mengajak pergi ke toko Board Game yang bernama Strategos Utopia di Senayan Trade Center yang baru saja pindah lokasi yang sebelumnya berada di KTC Hypermart Kelapa Gading. Entah ada maksud mau membeli sebuah board game atau apa, yang jelas aku, Cynthia dan Jason mencoba sebuah demo game yang bernama Pandemic.

Pandemic adalah sebuah board game yang bertemakan kooperatif dengan objektif menyelamatkan dunia dari wabah penyakit Pandemic. Taglinenya sendiri berbunyi “Do you have what it takes to save the humanity.”
Tahap awal player memilih karakter secara random dimana ada 5 karakter dengan special ability yang berbeda-beda (Operation Expert, Researcher, Scientist, Medic, Dispatcher). Kemudian men-setting kartu-kartu negara, kartu epidemic (wabah penyakit), dan kartu penyebaran virus penyakit serta menentukan tingkat kesulitan game ini.
Di setiap turn pemainnya, wabah penyakit akan bertambah yang ditandai dengan kubus. Satu negara maksimal hanya bisa menampung 3 kubus, jadi jika negara tersebut terkena penyakit lagi maka kubus yang harusnya menjadi 4 akan ditularkan ke negara sebelah-sebelahnya. Event ini dinamakan Outbreak.
Player dinyatakan menang jika sudah berhasil menemukan 4 macam vaksin sebelum virus penyakit menular terlalu parah.
Player dinyatakan kalah jika tingkat Outbreak sudah mencapai level 8 alias penyebaran virus penyakit sudah tidak bisa ditolong lagi.

Memainkan 2 round game ini menghabiskan waktu sekitar dua jam. Dan karena ini adalah game demo jadi kami bisa memainkannya di tempat. Pada akhirnya Jason memutuskan untuk membeli game ini dan terlihat cukup antusias.

Setelah selesai menghabiskan waktu seharian di Senayan, kami memutuskan untuk kembali ke tempatku. Karena ada penambahan anggota sebanyak 2 orang, kali ini kami memainkan board game yang bernama Cuba. Sebuah game yang bertemakan civilization negara Cuba mulai dari jalur perdagangan, pemilihan presiden yang bisa dilakukan dengan menyogok, penetapan kebijakan pajak, subsidi dll, proses produksi bahan mentah menjadi bahan baku, sampai pembangunan gedung menggunakan sumber daya alam di negara tersebut.
Menghabiskan waktu 2 jam untuk menyelesaikan 1 round game ini sehingga jam 10 malam Jason baru bisa pulang ke rumahnya. Mungkin suatu saat aku akan mencoba untuk menulis reviewnya.