jump to navigation

Finansial dan Investasi May 31, 2009

Posted by stevenlockhart in Articles.
trackback

Selagi membaca-baca majalah yang sudah berumur 6 bulan lamanya, aku mendapatkan sebuah rubrik yang tidak begitu menarik perhatianku 6 bulan yang lalu namun cukup menarik sekarang. Sebuah rubrik yang berhubungan dengan finansial dan investasi. Aku akan mencoba untuk membuat ringkasannya saja.

Active income dari bisnis
Bisnis yang sukses biasanya adalah bisnis yang berangkat dari hobi atau passion. Jika kita melakukan apa yang kita suka, biasanya bisnis itu berhasil. Yang harus dihapus adalah pandangan sebagian orang bahwa bisnis itu tidak bergengsi, bahwa hidup mapan itu harus berdasi dan bermobil. Jujur saja, ketika kita di PHK, dasi termahal pun tidak dapat menolong kita.

Passive income dari hard atau liquid asset
Robert Kiyosaki dalam buku Rich Dad Poor Dad mengajarkan bahwa orang kaya bertambah kaya karena dia membeli aset. Orang miskin bertambah miskin karena dia membeli liabilitas. Belilah aset, jangan liabilitas. Sebuah benda menjadi liabilitas jika sejalan dengan waktu, benda itu mengalami depresiasi nilai. Jarang mobil second hand terjual dengan harga lebih tinggi, bukan?

Gaya Hidup
Gaya hidup memang sangat menentukan di sini. Katakanlah income keluarga kita X dan dengan tanpa sadar, expense kita adalah 0.9X. Ini artinya kita hanya punya 0.1X untuk pendidikan anak dan hari tua kita. Apakah itu akan cukup? Kemungkinan besar tidak. Di saat pensiun nanti kita akan merasakan pahitnya turun dari gaya hidup 0.9X ke gaya hidup 0.1X. Yang selama ini 0.9X itu mungkin telah dapat membawa kita makan di gastro bar yang fancy, sekarang 0.1X mewajibkan kita untuk makan nasi dan minyak jelantah. Apakah masa depan seperti itu yang kita inginkan setelah kita pensiun? Jika masih belum yakin lihatlah dari sudut pandang ini:
Semua orang sama-sama ingin makan. Teman makan di warteg, habis Rp.5000,- dan kita makan di gastro bar, habis Rp.500.000,-. Sama-sama kenyang dan berenergi. Bedanya, ia menghabiskan Rp.5000,- untuk kenyang, kita menghabiskan Rp.5000,- untuk kenyang dan Rp.495.000,- untuk gaya hidupnya.
Dari sini terlihat bahwa tujuan hidup kita semua sama. Bahwa living cost kita = gaya hidup x actual basic cost. Yang membedakan adalah gaya hidup. Sering gengsi berperan di sini, yang mana sah-sah saja. Hanya kita harus memastikan bahwa gaya hidup yang dijalankan tidak akan menyakitkan kita setelah pensiun nanti.

sumber :Cosmopolitan Men

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: